Senin, 14 Januari 2013

ULUMUL HADIST

-->
MAKALAH

ULUMUL HADIST
SEJARAH PERKEMBANGAN HADIST PADA MASA PRAKODIFIKASI
Makalah Disusun untuk Memenuhi Tugas dalam Mata Kuliah
Ulumul hadist

Dosen Pembimbing:
HIDAYATULLAH.S.Pd. I
DISUSUN :

                          SUSANTO                         







FAKULTAS TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH ( STIT)
PRINGSEWU
PENGANTAR



Dengan mengucapkan syukur marilah kita panjatkan kehadirat ALLAH SWT karena berkat rahmat dan hidayahnya masih diberikan nikmat sehat, iman, dan islam sehingga kami dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Ulumul Hadist tentang Sejarah Perkembangan Hadist Di Masa prakodifikasi.

Pada kesempatan kali ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Bapak dan Ibu
2.      Karyawan dan Dosen STIT PRINGSEWU
3.      Dosen pengmpu mata kuliah Ulumul Hadist bapak Abdul Hamid. S. Pd. I Al hafisd

Penyusun menyadari masih terdapat kekeliruan dalam penyusunan dan penulisan tugas ini semata-mata datangnya dari diri pribadi yang tak luput rasa khilaf dan kesempurnaan datangnya dari ALLAH SWT.
Mudah-mudahan makalah ulumul Hadist tentang tentang Sejarah Perkembangan Hadist Di Masa prakodifikasi dapat bermanfaat bagi pembaca.



Pringsewu, 29 Agustus 2012





Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang Masalah

Keberadaan hadist sebagai salah satu sumber hukum dalam islam memiliki sejarah perkembangan dan penyebaran yang kompleks. Sejak dari masa pra kodifikasi, zaman Nabi, Sahabat dan Tabi’in hingga setelah pembukuan pada abad ke-14.

Perkembangan hadist pada masa awal lebih banyak menggunakan lisan, dikarenakan larangan Nabi untuk menulis hadist. Larangan tersebut berdasarkan kekhawatiran Nabi akan tercampurnya nash Al-Qur’an dengan hadist. Selain itu juga disebabkan fokus Nabi pada para Sahabat yang bisa menulis untuk menulis Al-Qur’an. Larangan tersebut berlanjut sampai pada masa tabi’in besar. Bahkan dengan Khalifah yang lain. Periodesasi penulisan dan pembukuan hadist secara resmi dimulai pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd Aziz (abad 2 H).

Terlepas dari naik turunnya perkembangan hadist, tak dapat dinafikan bahwa sejarah perkembangan hadist memberikan pengaruh besar dalam sejarah peradaban islam.
B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana sejarah perkembanagn hadist pada masa Rasulullah SAW ?
2.      Bagaimana sejarah perkembangan hadist pada masa Sahabat (Khulafa’ Al-Rasyidin) ?
3.      Bagaimana sejarah perkembangan hadist pada masa Tabi’in ?

C.     Tujuan dan Manfaat
1.      Untuk mengetahui sejarah perkembangan hadist pada masa rasulullah SAW.
2.      Untuk mengetahui sejarah perkembangan hadist pada masa sahabat.
3.      Untuk mengetahui sejarah perkembangan hadist pada masa tabi’in.


BAB II
PEMBAHASAN
A.     Hadist pada Masa Rasulullah SAW

Membicarakan hadist pada masa Rasul SAW berarti membicarakan hadist pada awal pertumbuhannya. Maka dalam uraiannya akan terkait langsung dengan pribadi Rasul sebagai sumber hadist.

Rasul membina umatnya selama 23 tahun.Masa ini merupakan kurun waktu turunnya wahyu dan sekaligus diwurudkannya hadist. Keadaan ini sangat menuntut keseriusan dan kehati-hatian para sahabat sebagai pewaris pertama ajaran islam. Untuk lebih memahami kondisi/ keadaan hadist pada zaman Nabi SAW berikut ini akan diuraikan beberapa hal yang berkaitan:

Cara Rasul Menyampaikan Hadist
Ada suatu keistimewaan pada masa ini yang membedakannya dengan masa lainnya, yaitu umat islam dapat secara langsung memperoleh hadist dari Rasulullah SAW sebagai sumber hadist. Dimana tempat-tempat yang digunakan sebagai tempat pertemuan diantaranya adalah masjid, rumah beliau sendiri, pasar ketiks beliau dalam perjalanan (safar), dan ketika beliau mukim (berada dirumah).
Dalam riwayat Imam Bukhori, disebutkan Ibnu Mas’ud pernah bercerita bahwa Rasulullah SAW, menyampaikan hadistnya dengan berbagai cara, sehingga para sahabat selalu ingin mengikuti pengajiannya, dan tidak mengalami kejenuhan. Cara tersebut diantaranya adalah :
Pertama, melalui para jama’ah yang berada di pusat pembinaan atau majelis al-ilmi.
Kedua, dalam banyak kesempatan, Rasulullah SAW juga menyampaikan hadistnya melalui para sahabat tertentu, kemudian mereka menyampaikannya kepada orang lain.
Ketiga, melalui ceramah atau pidato ditempat terbuka, seperti ketika haji wada’ dan Futuh Makkah.

Untuk hal-hal tertentu, seperti yang berkaitan dengan soal keluarga dan kebutuhan biologis, beliau menyampaikan melalui istri-istrinya.Begitu pula para sahabat, jika mereka segan bertanya kepada Nabi, mereka sering kali bertanya kepada istri-istri beliau.


Keadaan para sahabat dalam meneriam dan menguasai hadist.
Dalam perolehan dan penguasaan hadist, antara satu sahabat dengan sahabat yang lain tidaklah sama, ada yang memiliki banyak, ada yang sedang bahkan ada pula yang sedikit. Hal ini disebabkan karena:
  • Perbedaan mereka dalam hal kesempatan bersama Rasulullah SAW.
  • Perbedaan dalam soal hafalan dan kesungguhan bertanya kepada sahabat lain.
  • Perbedaan dalam hal waktu masuk Islam dan jarak tempat tinggal dari Majlis Rasul SAW.
  • Perbedaan dalam ketrampilan menulis, untuk menulis hadist.
Ada beberapa sahabat yang tercatat banyak menerima hadist dari Nabi SAW mereka adalah:
  • Para sahabat yang termasuk As-Sabiqun Al- Awwalun, seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, ustman bin Affan, Ali bin Abi Tahlib.
  • Ummahat Al-Mu’minin (istri-istri rasul) seperti Aisyah dan Ummu Salamah. Hadist yang diterimanya banyak berkaitan dengan soal pribadi, keluarga, dan tatat pergaulan suami istri.
  • Para sahabat yang disamping dekat dengan Rasul juga menuliskan hadist yang diterimanya, seperti Abdullah Amr bin Ash.
  • Sahabat yang meskipun tidak lama bersama Rasulullah tetapi sangat efisian dalam memanfaatkan kesempatan dan bersungguh-sungguh bertanya kepada sahabat lain, seperti Abu Hurairah.
  • Sahabat yang secara sungguh-sungguh mengikuti Majlis Rasul dan banyak bertanya kepada sahabat lain seperti, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas.
    Pemeliharaan Hadist dalam Hafalan dan Tulisan.
Aktifitas menghafal hadist
Untuk memelihara kemurnian al-Qur’an dan Hadist, Rasulullah mengambil kebijakan terhadap Al-Qur’an beliau memberi instruksi untuk menulisnya selain menghafalkan. Sedang terhadap hadist beliau secara resmi memerintahkan unutk menghafal dan menyampaikannya kepada orang lain.
Dengan demikian, para sahabat bersungguh-sungguh untuk menghafal hadist agar tidak terjadi kekeliruaan dengan Al-Qur’an. Ada alasan yang cukup memberi motivasi kepada para Sahabat, diantaranya adalah:
  1. Kegiatan menghafal merupakan budaya Arab yang telah ada sejak zaman praIslam.
  2. Mereka terkenal kuat hafalan jika dibanding bangsa-bangsa lain.
  3. Rasulullah banyak memberi spirit melalui doa-doanya agar mereka diberikan kekuatan hafalan dan dapat mencapai derajat yang tinggi.
  4. Dan Rasul sering kali menjanjikan kebaikan akhirat bagi mereka yang menghafalkan hadist dan menyampaikan kepada orang lain.
Aktifitas menulis hadist
Keadaan Sunnah pada masa Nabi SAW belum ditulis (dibukukan) secara resmi, walaupun ada beberapa sahabat yang menulisnya. Hal ini dikarenakan ada larangan penulisan hadist dari Nabi SAW dengan sabdanya:
لاتكقبو اعنّى سيئا غير القران فمن كتب عنّى سيئا غير القر ان فليمحه.
” jangan menulis apa-apa selain Al-Qur’an dari saya, barang siapa yang menulis dari saya selain Al-Qur’an hendaklah menghapusnya”.[1]
Tetapi disamping ada hadist yang melarang penulisan ada juga hadist yang membolehkan penulisan hadist, yaitu sabda Nabi SAW:
اكتب عنّى فو الذى نفس بيده ما خرج من فمن الاالحق.
” tulislah dari saya, demi Dzat yang diriku didalam kekuasaanNYA, tidak keluar dari mulutku kecuali yang hak”.
Dua hadist diatas tampaknya bertentangan, maka para ulama mengkompromikannya sebagai berikut:
  1. Bahwa larangan menulis hadist itu terjadi pada awal-awal Islam untuk memelihara agar hadist tidak tercampur dengan Al-Qur’an. Tetapi setelah itu jumlah kaum muslimin semakin banyak dan telah banyak yang mengenal Al-Qur’an, maka hukum larangan menulisnya telh dinaskhkan dengan perintah yang membolehkannya.
  2. Bahwa larangan menulis hadist itu bersifat umum, sedang perizinan menulisnya bersifat khusus bagi orang yang memiliki keahlian tulis menulis. Hingga terjaga dari kekeliruan dalam menulisnya, dan tidak akan dikhawatirkan salah seperti Abdullauh bin Amr bin Ash.
  3. Bahwa larangan menulis hadist ditujukan pada orang yang kuat hafalannya dari pada menulis, sedangkan perizinan menulisnya diberikan kepada orang yang tiak kaut hafalannya.
B.     Hadist Pada Masa Sahabat
      Periode kedua sejarah perkembangan hadist, adalah masa sahabat, khususnya masa Khulafa Al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar Ibn Khattab, Usman Ibn Affan dan Ali Ibn Abi Thalib) yang berlangsung sekitar 11 H sampai 40 H, masa ini juga disebut dengan sahabat besar.

Sahabat dan Periwayatan Hadist
  • Menjaga Pesan Rasul SAW
Pada masa menjelang kerasulannya, Rasul SAW berpesan kepada para sahabat agar berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Hadist serta mengerjakannya kepada orang lain sebagai mana sabdanya :

تركت فيكم أمر يى لن تملّوا ما تمسّكم بهما كتاب الله وسنة نبيّ
”Telah aku tinggalkan untuk kalian dua macam, yang tidak akan tersesat setelah berpegang kepada keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnahku (Al-Hadist)[2]
Pesan-pesan Rasul Saw sangat mendalam pengaruhnya kepada para sahabat, sehingga segala perhatian yang tercurah semata-mata untuk melaksanakan dan memelihara pesan-pesannya. Kecintaan mereka kepada Rasul SAW dibuktikan dengan melaksanakan segala yang dicontohkan.
  • Berhati-hati dalam Meriwayatkan dan Menerima Hadist.
Perhatian sahabat pada masa ini terutama sekali terfokus pada usaha memelihara dan menyebarkan Al-Qur’an, ini terlihat bagaimana Al-Qur’an dibukukan pada masa Abu Bakar atas saran Umar Ibn Khattab, usaha pembukuan ini diulang juga pada masa Usman Ibn Affan, sehingga melahirkan mushaf Usmani satu disimpan di Madinah yang dinamai Mushaf Al-Imam dan yang empat lagi maisng-masing disimpan di Makkah, Basrah, Syiria dan Kuffah.

Perlu pula dijelaskan disini, bahwa pada masa ini belum ada usaha resmi untuk menghimpun hadist dalam suatu kitab, seperti halnya Al-Qur’an. Hal ini (umat islam) dalam mempelajari Al-Qur’an. Sebab lain pula, bahwa para sahabat yang banyak menerima hadist dari Rasul SAW sudah tersebar diberbagai daerah kekuasaaan islam, dengan kesibukannya masing-masing sebagai pembina masyarakat. Sehingga dengan kondisi seperti ini, ada kesulitan mereka secara lengkap.Pertimbangan lainnya, bahwa soal membukukan hadist dikalangan para sahabat sendiri terjadi perselisihan pendapat, belum lagi terjadinya perselisihan soal lafadz dan kesahihannya.
  • Periwayatan Hadist dengan Lafadz dan Makna.
Pembatasan atau penyederhanaan periwayatan hadist, yang ditunjukkan oleh para sahabat dengan sifat kehati-hatianny, tidak berarti hadist-hadist Rasul tidak diriwayatkan.Dalam batasan-batasan tertentu hadist-hadist itu diriwayatkan.Khususnya permasalahan ibadah dan muamalah.Periwayatan tersebut dilakukan setelah diteliti secara ketat pembawa hadist tersebut dan kebenaran isi matannya.
Ada dua jalan sahabat dalam meriwayatkan hadist dari Rasul SAW:
Pertama, periwayatan lafdzi (redaksinya persis seperti yang disampaikan Rasul). Kebanyakan para sahabat meriwayatkan hadist dengan jalan ini.Mereka berusaha agar periwayatan hadist sesuai dengan redaksi dari Rasul SAW, seperti sahabat Ibnu Umar.

Kedua, periwayatan maknawi (maknanya saja). Periwayatan maknawi artinya periwayatan hadist yang matannya tidak persis sama dengan yang didengarnya dari Rasul SAW akan tetapi isi atau maknanya tetap terjaga secara utuh, sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Rasul SAW tanpa ada perubahan.
Abu Bakar
Untuk menghindari kebohongan itu, misalnya Abu Bakar meminta pengukuhan sahabat lain ketika seorang nenek datang padanya mengatakan ”saya mempunyai hak atas harta yang ditinggal oleh para anak laki-laki saya” kata Abu Bakar ” saya tidak melihat ketentuan seperti itu, baik dari Al-Qur’an maupun dari rasul” maka tampillah Muhammad Bin Maslamah sebagai saksi bahwa seoarang nenek seperti kasus tersebut mendapat bagian (1/6) harta peninggalan cucu dari anak laki-lakinya.
Kesimpulannya, benar bahwa Abu Bakar amat ketat dalam periwayatan hadist.Akan tetapi tidak perlu disalah pahami bahwa beliau tidak anti terhadap penulisan hadist.Bahkan, untuk kepentingan tertentu hadist nabi ditulisnya.
Umar bin Khattab
Ibn Qutaibah berkata, sebagai dikutip Ajjaj al_Khatib mengatakan Umar bin Al-Khatab adalah orang yang sangat keras menentang orang-orang yang menghambarkan riwayat hadist, atau orang yang membawa hadist (khabar) mengenai hukum tertentu tetapi tidak diperkuat dengan seorang saksi. Umar bin Khatab tidak senang dengan terhadap orang yang memperbanyak periwayatan hadist dengan terlalu mudah dan sembrono. Tentu agar kemurnian hadist nabi dapat terpelihara. Ini tidak berarti bahwa beliau anti periwayatan hadist, Umar r.A mengutus para ulama’ mengajarkan islam dan sunnah nabi pada penduduk negeri. Sikap kehati-hatian kedua sahabat tersebut, juga diikuti oleh Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib tidak menerima hadist sebelum yang meriwayatkan itu disumpah. Pada masa ini juga belum ada usaha secara resmi untuk menghimpun hadist dalam suatu kitab halnya Al-Qur’an, hal ini disebabkan karena:
  1. Agar tidak memalingkan perhatian umat Islam dalam mempelajari Al-Qur’an.
  2. Para sahabat yang banyak menerima hadist dari Rasul SAW sudah tersebar ke berbagai daerah kekuasaan Islam.
  3. Soal membukukan hadist, dikalangan sahabat sendiri terjadi perselisihan pendapat. Belum lagi terjadinya perselisihan soal lafadz dan kesahihannya.
C.  Hadist pada masa Tabi’in

Pada dasarnya periwayatan yang dilakukan oleh kalangan Tabi’in tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh para sahabat sebagai para guru-guru mereka.Hanya saja persoalan yang dihadapi mereka agak berbeda dengan yang dihadapi para sahabat.Pada masa ini Al-Qur’an sudah dikumpulkan dalam satu mushaf. Dipihak lain, usaha yang telah dirintis oleh para sahabat, pada masa khulafa’ Al-Rasyidin kebeberapa wilayah kekuasaan islam, kepada merekalah para tabi’in mempelajari hadist.
Ketika pemerintahan dipegang Bani Umayyah, wilayah kekuasaan islam sudah meliputi Makkah, Madinah, Bashrah, Khurasan, Mesir, Persia, Irak, Afrika Selatan, Samarkand, dan Spanyol. Sejalan dengan pesatnya perluasaan kekuasaan Islam tersebut, penyebaran sahabat ke daerah-daerah juga meningkat.Oleh sebab itu, masa itu dikenal masa penyebaran periwayatan hadist.

Hadist-hadist yang diterima para tabi’in ini, seperti telah disebutkan ada yang dalam bentuk catatan-catatan atau tulisan-tulisan dan ada yang harus dihafal, disamping dalam bentuk yang sudah terpolakan dalam ibadah dan amaliah para sahabat yang mereka saksikan dan mereka ikuti.

Pada masa tabi’in ini muncul atau terjadi sejak masa sahabat, setelah terjadinya perang Jamal dan perang Siffin yaitu tatkala kekuasaan dipegang oleh Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi akibatnya cukup panjang dan berlarut-larut dengan terpecahnya umat Islam ke dalam beberapa kelompok, yaitu Khawarij, Syiah, Muawiyah dan golongan minoritas yang tidak termasuk dalam ketiga kelompok tersebut.

Dari persoalan politik diatas langsung atau tidak langsung cukup memberikan pengaruh, baik positif maupun negatif terhadap perkembangan hadist berikutnya.Pengaruh yang langsung dan bersifat negatif mendukung kepentingan politik masing-masing kelompok menjatuhkan posisi lawan-lawannya.Adapun pengaruh yang berakibat positif adalah hadist sebagai upaya penyelamatan dari pemusnahan dan pemalsuan.


BAB III
KESIMPULAN


Sejarah hadist pra kodifikasi terbagi menjadi beberapa bagian, untuk lebih mudah memahaminya, berikut uraiannya.
I.                   Hadist pada masa Rasul SAW
Dalam masa ini ada beberapa hal penting yang berkaitan dengan masa itu:
  • Cara rasul menyampaikan hadist, melalui jamaah pada majlis-majlis, ceramah dan pidato di tempat-tempat terbuka, dan lain-lain.
  • Keadaan para sahabat dalam menerima dan menguasai hadist, sesuai dengan kapasitas masing-masing sahabat.
  • Pemeliharaan hadist melalui hafalan dan tulisan.
II.                Hadist pada masa sahabat
Kehati-hatian para sahabat dalam hal pembukuan hadist dan pada masa itu belum ada pembukuan secara resmi, dikarenakan beberapa hal yang diantaranya adalah :
  1. Agar tidak memalingkan perhatian umat Islam dalam mempelajari Al-Qur’an.
  2. Para sahabat yang banyak menerima hadist dari Rasul SAW sudah tersebar ke berbagai daerah kekuasaan Islam.
  3. Soal membukukan hadist, dikalangan sahabat sendiri terjadi perselisihan pendapat. Belum lagi terjadinya perselisihan soal lafadz dan kesahihannya.

III. Hadist pada masa tabi’in
Pada masa ini juga terjadi kegiatan menghafal dan menulis hadist, dan ada bebrapa hal yang begitu berpengaruh dalam hal perkembangan hadist, diantara pengaruh positif yang ada adalah hadist sebagai upaya penyelamatan dari pemusnahan dan pemalsuan.


DAFTAR PUSTAKA



Suparta, Munzier, ilmu hadist, Jakarta: PT. Raja Grafindo persada. 2002

Al- Ramaharmuzi, Al-Muhaddis Al-Fashil Baina ar-Rawi wa al-wa’I (Beirut: Al-Fikr)

Imam Malik, al-Muwatha’ juz 2.Hlm 56.periwayat lain adalah Abu Daud, al-Tirmidzi, dan sa’ad ibn Majjah.

Rumtianing. Irma, Khusniatin Rofiah. pokok-pokok ilmu hadist . Ponorogo: STAIN Ponorogo press. 2005




[1](Hr. Muslim dari Abu Sa;id Al-Khudry)
[2]” H.R Malik


MANAJEMEN PENDIDIKAN

-->
MAKALAH

MANAJEMEN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
LANDASAN PEMIKIRAN, SIASAT, DAN KEBIJAKAN
MakalahDisusununtukMemenuhiTugasdalam Mata Kuliah
Manajemenpendidikan agama islam

DOSEN PENGAMPUH

ADHAR ALMURSID, S.Pd.I,.M.Pd.i



O
L
E
H

SUSANTO












FAKULTAS TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH ( STIT)
PRINGSEWU
PENGANTAR



Denganmengucapkansyukurmarilahkitapanjatkankehadirat ALLAH SWT karenaberkatrahmatdanhidayahnyamasihdiberikannikmatsehat, iman, danislamsehingga kami dapatmenyelesaikanmakalahmatakuliahManajemenPendidikan Agama IslamtentanglandasanPemikiran, Siasat, dankebijaksanaan.
Padakesempatan kali inipenyusunmengucapkanterimakasihkepada :
1.      BapakdanIbu
2.      KaryawandanDosen STIT PRINGSEWU
3.      DosenpengmpumatakuliahManajemenbapakAdharMursid. S.Pd.I,.M.Pd.I

Penyusunmenyadarimasihterdapatkekeliruandalampenyusunandanpenulisantugasinisemata-matadatangnyadaridiripribadi yang takluput rasa khilafdankesempurnaandatangnyadari ALLAH SWT.
Mudah-mudahanmakalahManajemenPendidikan Agama Islam tentanglandasanPemikiran, Siasat, danKebijaksanaan




Pringsewu, 29 Agustus 2012





Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN


A.    LatarBelakangMasalah
Pemimpinadalah orang yang dapatmempengaruhi orang lain agar dapatberbuatsesuaidengankemauan yang dikehendakinya. Dengan kata lain pemimpinadalah orang yang sanggupmembawa orang lain menujukepadatujuan yang dikehendakinya. Padahakekatnyasetiapmanusiapadahakekatnyaadalahpemimpin, paling tidakiasebagaipemimpindirinyasendiri.  Hatiadalahpemimpin di dalamtubuhmanusia, sebabsegalasesuatu yang yangmanusiaperbuatadalahberdasarpetunjukdankemauanhatinurani.
Pemimpinjugaharusmemilikilandasanpemikiran, siasat, danmempunyaisifatbijaksana, terkadangpemimpinlupadengantigakomponentersebutuntukmendirikanlembagapendidikanpadahaltigakomponentersebutsangatbermanfaatdalammemajukansuatulembagapendidikan, makaolehsebabitupenulismenuliskaryailmiyahgunauntukmenbahastigakomponenyaitulandasanpemikitan, siasat, dankebijaksanaan.

B.     RumusanMasalah
1.      Apa yang di maksuddenganlandasanpemikiran ?
2.      Bagaimanamembuatsiasatdanapa yang di maksuddengansiasat ?
3.      Bagaimanamenanamkansifatkebijaksanaan?

C.    TujuandanManfaat
1.      Untukmengetahuilandasanpemikiran.
2.      Untukmengetahuicaramembuatsiasatdanuntukmengetahuiapasiasatitu.
3.      Untukmengetahuicaramenanamkansifatkebijaksanaan.
           


BAB II
PEMBAHASAN


A.    Landasanpemikiran
Pemikiran dalam bahasa inggris disebut Inference yang berarti penyimpulan yang berarti mengeluarkan suatu hasil berupa kesimpulan ada juga yang menyebut penuturan dan penalaran. Apa yang dimaksud pembicaraan dalam bagian ini adalah : kegiatan akal manusia, mencermati suatu pengetahuan yang telah ada, untuk mendapatkan / mengeluarkan pengetahuan yang baru (lain)“. Terutama dalam konteks rasionalitas stricto sensu misalnya dalam ilmu:
Pemikiran adalah aksi yang menyebabkan pikiran mendapat pengertian baru dengan perantaraan hal yang sudah diketahui.sebenarnya yang beraksi disini bukan hanya pikiran atau akal budi, yang beraksi sesungguhnya adalah seluruh manusia (the whole man). Selanjutnya proses pemikiran adalah suatu pergerakan mental dari sutu hal menuju hal lain, dari proposisi satu ke proposisi lainnya,dari apa yang sudah diketahui ke hal yang belum diketahui. Misalnya dari realitas dunia ini kita dapat membuat pemikiran tentang eksistensi tuhan, dari perbuatan-perbuatan kita, kita dapat membuat pemikiran tentang kemerdekaan kehendak.karena pemikiran merupakan suatu gerak kemajuan, maka juga terjadilah urutan momen-momen, urutan sebelum dan sesudahnya. Jadi, terdapat terminus a quo, yakni hal yang merupakan pangkalan, hal yang sudah diketahui, dan terdapat terminus ad  quem (sasaran), yakni sesuatu yang muncul dari pangkalan tadi.
Dalam pengertian pemikiran stricto sensu, hal yang sudah diketahui itu terdiri dari dua term yang diketahui sebagai benar. Dan dua term ini berbentuk dua  proposisi (mental) yang biasa juga disebut premis-premis atau antecedent. Dengan memikirkan kedua term tersebut,pemikiran melihat hubungan, kemudian melihat pula kebenaran ketiga,yakni sesuatu yang muncul berkat adanya hubungan-hubungan yang tardapat dalam antecedent.kebenaran ketigayang muncul dari hubungan tadi disebut kesimpulan atau konklusi yang juga berwujud proposisi. Dan proposisi ini juga merupakan “wadah“ tempat pemikiran bermuara dan sebagai tempat memuat penyimpulan (inferensi) yang disebut consequent. Organisme logis yang diwujudkan oleh antecedent, kecuali jika proposisi-proposisi yang mewujudkan pemikiran diatur secara tertentu hingga mengungkapkan ciri-ciri hal yang dipersoalkan.

Prinsip – prinsipdasarpemikiran
1.      Prinsip identitas adalah dasar dari semua pemikiran. Artinya ialah pengakuan bahwa benda ini adalah benda ini, dan bukan benda lain; bahwa benda itu adalah benda itu, dan bukan benda lainSuatu benda adalah benda itu sendiri. Setiap benda identik dengan  diringan sendiri.
2.      Prinsip pembatalan prinsip ini sebanyaklah rumusan negatif dari prinsip identitas.
3.      Prinsip-penyisihan-kemungkinan-ketiga, prinsip yang mengatakan bahwa tidak terdapat kemungkinan ketiga. Yang dimaksudkan adalah apabila terdapat dua proposisi yang kontradiktoris, yang satu merobohkan yang lain, pastilah salah satu dari proposisi itu salah. Tidak mungkin terdapat kemungkinan ketiga.
4.      Prinsip-alasan-yang-mencukupi karena sifat keumumannya,prinsip-alasan-yang-mencukupi dapat kita beri tempat disni juga. Rumusannya: sesuatu yang ada mempunyai alasan yang mencukupi untuk adanya. Segala sesuatu mempunyai dasar atau alasan yang mencukupi untuk adanya, atau segala sesuatu dapat dapat dimengerti. Tetapi waspadalah untuk tidak memperluas penerapan prinsip ini pada semua realitas, atau apa sesuatu yang hanya satu, sebab tidak semua realitas dapat dimengerti secara memadai oleh pikiran kita yang terbatas.


B.     Siasat
Siasatadalahcarabekerjaataumelakukansesuatudengancermat/seksama (KBBI)[1]. Siasatjugadapatdimaknaisebagaitaktik yang berdayaupayauntukmencapaiterwujudnyatujuantertentu (perencanaanpembelajaranbahasadansastra Indonesia/PBSI).Mengapaperlusiasat?Perencanaanpembelajaranmerupakantahapanpentinguntukmencapaitujuanakhirpembelajaran.Pembelajaranbukansekedaraktivitasrutinpendidikantetapimerupakankomunikasiedukatif yang penuhpesan, sistemik, prosedural, dansarattujuan.Karenaitu, iaharusdipersiapkansecaracermat.
MengikutKamaruddinHj. Husin&SitiHajarHj. Abdul Aziz dalambukunyaPengajianMelayuIII :KomunikasiBahasa, siasatbolehdidefinisikansebagaipengendaliansuatuorganisasi yang benar-benarberlaku di dalambilikdarjah di manaiadigunakanuntukmencapaisesuatuobjektif.
Siasatmerupakansuatualat yang digunakanoleh guru bahasabagimenyampaikanbahan-bahanpengajaran yang telahdipilihuntukpelajar-pelajarnya.siasat yang dipilihharuslahsejajardengankaedah yang digunakandanseiramadenganpendekatan yang dianuti[2].

TujuanSiasat
1.   MenarikMinatmurid
2.   Mengekalkanperhatian
3.   Membangkitkanrasingintahu
C.    Kebijaksanaan

Kebijaksanaanadalahsuatutindakan yang selalumenggunakanakalbudinya( pengalamandanpengetahuan) apabilamenghadapikesulitanataupermasalahan. Kebijaksanaanharus di milikisetiapindividumasing-masingkarenasetiapinduviduadalampemimpin.
Seorangpemimpin yang suksesadalah yang maumengertitentangkeadaananakbuahnya.Konsepnyaadalahbagaimanacaranya agar anakbuahkitadapatbekerjadengannyaman, sadarakanpekerjaannyatanpamerasatertekan.
Keteladananseorangpemimpinharusditerapkan.Misalnyamenyuruhanakbuahmasuk jam delapan, makasebelum jam yang ditetapkanseorangpemimpin yang baiksudahdatangterlebihdahulu.Kalaupadasaatinisedangdigalakkkan anti KKN, makadalamprakteknyasemuaharustransparandan yang perludilakukanjangansekali-kali menggunakanuangkantorsesenpununtukkeperluan yang bersifatpribadi. Karenaakibatdariperbuataniniakan fatal. Yang paling utama, seorangpemimpinharusmauturunkelapangansecaralangsung, bertegursapadengananakbuah, tidakhanyamendengarkanlaporandaribawahan.Kesejahteraanpegawaiharusmendapatperhatianserius, jangansampaisemangatdaripegawai yang sudahdemikianbesardan loyal, akansirnadenganimbalan yang tidaksepadan.
Perludiingat, bahwakeputusanseorangpemimpinadalahsendiri.Iadapatmendengarkanberbagaipertimbangandaribanyak orang tetapipadaakhirkeputusanhanyadiasendiri yang akanmelakukannya. Untukitu, diperlukanketelitian, jiwa yang tenangdanbijaksana.Sehinggaapa-apa yang sudahmenjadikeputusannyatidakmenimbulkanmasalah.
Menegorkesalahanbawahanjangandilakukanpadatempatterbuka.Carilahtempattertutup, usahakanberlakubijaksana, sehinggabawahan yang mendapatteguranakanmenyadarikesalahannyadantidaktimbul rasa dendam.
Dalamsebuahperusahaanperananseorangmanajersangatpenting.Bilamanajernyaberjalantidaksesuaiaturan, makabawahannyaakanberjalanserupa. Bahkandapatmelebihidalamtindakan yang kurangbaik.Bilaadarejeki, sisihkansedikituntukdikumpulkan, danhasilnyadibagikankepadakaryawan.Dengancarasepertiinikaryawanmerasadiperhatikandannilaisertasemangatkerjamerekaakanmeningkat.





BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    KESIMPULAN
Ø  Landasanpemikiran
Landasan Pemikiran adalah dasar aksi  yang menyebabkan pikiran mendapat pengertian baru dengan perantaraan hal yang sudah diketahui.sebenarnya yang beraksi disini bukan hanya pikiran atau akal budi, yang beraksi sesungguhnya adalah seluruh manusia (the whole man). Selanjutnya proses pemikiran adalah suatu pergerakan mental dari sutu hal menuju hal lain, dari proposisi satu ke proposisi lainnya,dari apa yang sudah diketahui ke hal yang belum diketahui. Misalnya dari realitas dunia ini kita dapat membuat pemikiran tentang eksistensi tuhan, dari perbuatan-perbuatan kita, kita dapat membuat pemikiran tentang kemerdekaan kehendak.karena pemikiran merupakan suatu gerak kemajuan
Ø  Siasat
Siasatadalahcarabekerjaataumelakukansesuatudengancermat/seksama (KBBI). Siasatjugadapatdimaknaisebagaitaktik yang berdayaupayauntukmencapaiterwujudnyatujuantertentu (perencanaanpembelajaranbahasadansastra Indonesia/PBSI).Mengapaperlusiasat?Perencanaanpembelajaranmerupakantahapanpentinguntukmencapaitujuanakhirpembelajaran.
Ø  Kebijaksanaan
Kebijaksanaanadalahsuatutindakan yang selalumenggunakanakalbudinya( pengalamandanpengetahuan) apabilamenghadapikesulitanataupermasalahan. Kebijaksanaanharus di milikisetiapindividumasing-masingkarenasetiapinduviduadalampemimpin.
B.     SARAN
Berkaitandenganpermasalahan yang dibahas, makapenulismemberikan saran sebagaiberikut :
Sebagaiseorangpemimpinharusmempunyailandasanpikiran. Siasat, danmempunyaisifatbijaksana yang baik, karenaketigakomponentersebutkuncinmenciptakanpendidikan yang baik.
DAFTAR PUSTAKA


Dahri, Sunardji, 2009, Ilmu Mantik, Langkah – Langkah Berfikir Logis, Surabaya : PT. Pwu Jawa Timur ”Putri”

Suharto, Heru, 1993, Logika Formal, Sala : Bpk – UNS

Jamaluddin, 1989, BerfikirApa dan Bagaimana, Surabaya Indah.


PusdiklatPegawaiDepdiknas, ManajemenSekolah, Jakarta, edisi II, cetIII,tt





[1]Menurut Jane Nelsen  dalambuku “Positive Discipline”,
[2]KamaruddinHj. Husin&SitiHajarHj. Abdul Aziz
dalambukunyaPengajianMelayu III : KomunikasiBahasa